QS Al-Mumtahanah adalah surat yang dari awal hingga akhir surat berbicara tentang loyalitas kepada Allah & Rasul-Nya saw. Menurut para ulama tafsir, surat ini turun direntang waktu antara setelah perjanjian Hudaibiyah (6 H) dan sebelum Fathu Mekkah (8 H). Jadi QS Al-Mumtahanah ini turun ketika perjanjian Hudaibiyah sedang berlangsung antara Nabi saw & kaum muslimin dengan kaum kafir Quraisy Mekkah

Yang menarik adalah di QS Al-Mumtahanah ini adalah disebutkannya kata “MAWADDAH” sebanyak 3 kali, yaitu di ayat 1 disebut 2 kali dan di ayat 7 disebut satu kali. Di ayat 1 konteksnya adalah larangan bagi kaum muslimin utk memberikan “MAWADDAH” kepada kaum kafir Quraisy Mekkah, sekalipun di antara mereka terdapat karib kerabat. Sedangkan di ayat 7 konteksnya adalah harapan terjadinya “MAWADDAH” antara Nabi saw & kaum muslimin dengan kaum kafir Quraisy Mekkah ..

Apakah ini ada pertentangan antara ayat 1 & ayat 7 ? …. sekali2 tidak

Kata MAWADDAH secara makna adalah rasa cinta yang memberikan manfaat kepada orang/pihak yang dicintai atau sebaliknya, berbeda dengan MAHABBAH yang maknanya adalah sekedar rasa cinta, karena itu dlm QS Ar-Rum ayat 21 yang sering dinukil sebagai doa pernikahan, kata yang digunakan adalah MAWADDAH, bukan MAHABBAH … karena dlm pernikahan sepasang suami isteri akan saling memberikan rasa cinta yang memberikan manfaat satu sama lain, diantaranya : nafkah & kenikmatan seksual

Dalam QS Al-Mumtahanah ayat 1 larangan utk memberikan MAWADDAH yang dimaksud adalah larangan memberikan manfaat seperti yang menjadi asbabun nuzul turunnya ayat 1 tsb, yaitu ketika sahabat Nabi saw, Hatib bin Abi Balta’ah mengirimkan surat rahasia kepada pemimpin kaum kafir Quraisy Mekkah yang berisi informasi rencana Nabi saw & kaum muslimin menaklukan kota Mekkah.

Surat tsb dititipkan kepada budak perempuan yang dikirim oleh karib kerabat Hatib bin Abi Balta’ah ra ke Madinah utk meminta bantuan karena karib kerabatnya sedang mengalami kesulitan ekonomi. Surat tsb dikirim Hatib ra, dikarenakan kekhawatirannya jika Nabi saw & kaum muslimin menaklukan kota Mekkah, akan terjadi sesuatu yang tdk diharapkan kepada karib kerabatnya tsb.

Yang Allah larang adalah pemberian informasi kepada kaum kafir Quraisy Mekkah karena itu memberikan keuntungan/manfaat kepada pemimpin kafir Quraisy dlm situasi pertarungan antara Nabi saw & kaum muslimin dengan kafir Quraisy Mekkah saat itu, dan ini adalah bagian dari MAWADDAH, meskipun latar belakangnya adalah kekhawatiran akan nasib karib kerabatnya, sedangkan pemberian bantuan ekonomi kepada kerabat Hatib bin Abi Balta’ah sebagai wujud kasih sayang kepada kerabat,- MAHABBAH-, tdk dilarang oleh Nabi saw.

Lalu pada ayat ke 7, yang dimaksud MAWADDAH di sini adalah harapan masuk Islamnya tokoh2 kafir Quraisy Mekkah, yang dengan masuk Islamnya para tokoh2 tsb memberikan manfaat bagi kejayaan Islam & kaum muslimin. Hal tsb terbukti dengan banyaknya orang2 kafir Quraisy yang masuk Islam selama perjanjian Hudaibiyah berlangsung,- rentang waktu dimana QS Al-Mumtahanah ini turun-, yang berpuncak pada masuk Islamnya 3 tokoh Quraisy, yang dijuluki oleh Nabi saw sebagai “jantung hatinya” Quraisy, yaitu : Khalid bin Walid, Amr bin Ash dan Utsman bin Thalhah.

Sejarah kemudian membuktikan ke 3 tokoh tsb bukan hanya sekedar masuk Islam, tapi memberikan kontribusi yang luar biasa bagi kejayaan Islam & kaum muslimin, sebagai bentuk MAWADDAH mereka kepada Allah & Rasul-Nya saw, setelah sekian lama memberikan mudharat kepada kaum muslimin

Pemilihan redaksi kata dalam Al-Quran akan selalu terbukti kemu’jizatannya. Dalam hal loyalitas ditengah pertarungan antara Nabi saw & kaum muslimin dengan musuh2 nya, -dlm hal ini kafir Quraisy Mekkah-, yang menjadi tema dari QS Al-Mumtahanah tsb, redaksi kata yang dipilih adalah MAWADDAH bukan MAHABBAH, karena MAHABBAH adalah naluri & fitrah manusia utk mencintai & menyayangi kerabat dekatnya, meskipun kerabatnya tsb ada di pihak musuh. Al-Quran tdk akan bertentangan dengan naluri & fitrah manusia.

Sedangkan pemilihan redaksi kata MAWADDAH di ayat ke 7, secara isyarat halus memberikan pelajaran kepada kaum muslimin, bahwa orang yang sebelumnya memusuhi Islam, karena kehendak Allah bisa menjadi orang yang MAWADDAH kepada Islam, dengan kontribusinya yang diberikan, apatah lagi orang2 yang sejak awal sdh muslim, sdh seharusnya bisa memberikan MAWADDAH nya kepada Islam lebih baik lagi, bukan hanya sekedar MAHABBAH …

والله اعلم